Perbankan-Pengusaha Kurang Peduli Ekosistem Sepak Bola Pelajar di Bulukumba

BULUKUMBA  INIKATA–Liga Pelajar Indonesia (LPI) Zona Bulukumba mendorong keterlibatan perbankan, lembaga keuangan, dan dunia usaha dalam membangun ekosistem sepak bola pelajar yang berkelanjutan.

Bagi LPI Zona Bulukumba, kompetisi sepak bola pelajar tidak boleh berhenti pada pertandingan dan perebutan trofi. Kompetisi harus menjadi bagian dari proses pembinaan jangka panjang yang mampu membuka ruang tumbuh bagi pemain muda sekaligus memperkuat fondasi sepak bola di daerah.

Competition Director LPI Zona Bulukumba, Saiful Alief Subarkah (SAS), mengatakan pembangunan ekosistem sepak bola pelajar membutuhkan kolaborasi lintas sektor. Pemerintah, sekolah, komunitas sepak bola, dunia usaha, dan lembaga keuangan dinilai memiliki peran strategis dalam memastikan program pembinaan berjalan konsisten.

Bacaan Lainnya

Ajakan tersebut disampaikan SAS melalui siaran pers pada 24 Agustus 2026.

“Kami mengajak seluruh pihak, baik lembaga keuangan dan perbankan maupun pelaku usaha yang ada di Kabupaten Bulukumba, untuk berkolaborasi membangun ekosistem kompetisi sepak bola pembinaan yang berkelanjutan, khususnya Liga Pelajar Indonesia,” ujar SAS.

Menurutnya, sepak bola pelajar tidak semestinya dipandang sebagai agenda olahraga musiman. Di balik sebuah kompetisi terdapat proses pembinaan yang membutuhkan dukungan berkelanjutan, mulai dari fasilitas, kompetisi yang konsisten, pengembangan sumber daya manusia, hingga program pembinaan atlet muda.

SAS menilai keterlibatan dunia usaha juga penting karena tanggung jawab pembinaan olahraga tidak dapat sepenuhnya dibebankan kepada pemerintah maupun penyelenggara kompetisi.

“Kalau kita ingin sepak bola Bulukumba memiliki masa depan, pembinaannya harus dimulai sejak usia pelajar dan dilakukan secara konsisten. Kompetisi harus menjadi ruang tumbuh, bukan sekadar seremoni tahunan,” katanya.

Ia berharap dukungan sektor perbankan dan dunia usaha terhadap LPI tidak semata-mata ditempatkan sebagai aktivitas sponsorship. Lebih dari itu, kolaborasi tersebut dapat menjadi bagian dari investasi sosial dan investasi sumber daya manusia, khususnya dalam mendukung perkembangan generasi muda Bulukumba.

LPI Zona Bulukumba membuka peluang kolaborasi dalam berbagai aspek, antara lain pengembangan kompetisi, penyediaan dan peningkatan fasilitas olahraga, pembinaan atlet muda, pengembangan kapasitas sumber daya manusia, hingga program yang memberikan nilai tambah bagi pelajar.

“Yang ingin kita bangun bukan hanya turnamen. Kita ingin membangun ekosistem,” tegas SAS.

Menurut LPI Zona Bulukumba, keberhasilan sebuah kompetisi tidak semata diukur dari siapa yang mengangkat trofi. Indikator yang lebih penting adalah sejauh mana kompetisi mampu membuka jalan bagi lahirnya pemain-pemain muda, memperkuat pembinaan di sekolah, serta menciptakan kesinambungan prestasi sepak bola Bulukumba.

Karena itu, pembangunan ekosistem sepak bola pelajar dinilai sebagai agenda bersama yang membutuhkan keterlibatan seluruh pemangku kepentingan.

Pemerintah, sekolah, komunitas sepak bola, perbankan, dunia usaha, dan stakeholder olahraga diharapkan dapat mengambil peran sesuai kapasitas masing-masing.

Sepak bola pelajar membutuhkan lapangan untuk bertanding. Namun untuk tumbuh, bertahan, dan melahirkan prestasi, sepak bola membutuhkan ekosistem.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *