MAROS – Sumber air Lekopancing, salah satu andalan PDAM Tirta Bantimurung Maros, terancam mengering dalam dua hingga tiga pekan ke depan jika hujan tak kunjung turun.
Debit air di sumber tersebut kini mulai menyusut akibat musim kemarau. Kondisi ini membuat PDAM Tirta Bantimurung Maros menyiapkan skema pengalihan pasokan untuk menjaga pelayanan kepada pelanggan.
Direktur PDAM Tirta Bantimurung Maros Muh Shalahuddin mengatakan kondisi Lekopancing perlu diwaspadai. Sebab, sumber air tersebut pernah benar-benar kering saat kemarau panjang pada 2023.
“Seperti yang terjadi pada 2023, saat kemarau panjang, instalasi tersebut tidak beroperasi selama 45 hari karena kering,” kata Shalahuddin, Rabu (12/8/2026).
Meski debit terus menyusut, Shalahuddin memastikan kondisi tersebut tidak serta-merta menghentikan distribusi air bersih kepada masyarakat.
PDAM akan mengalihkan pasokan dari instalasi lain yang masih memiliki ketersediaan air. Skema tersebut dimungkinkan karena jaringan distribusi PDAM saling terhubung.
“Air tetap mengalir karena kami melakukan backup dari instalasi lain. Kalau ada wilayah yang debitnya berkurang, kami suplai menggunakan mobil tangki dan tandon,” ujarnya.
PDAM juga menyiapkan mobil tangki untuk menyuplai wilayah yang mengalami penurunan tekanan maupun gangguan pasokan. Air yang diangkut mobil tangki nantinya disalurkan melalui tandon di titik-titik yang membutuhkan.
Saat ini, PDAM Tirta Bantimurung Maros melayani lebih dari 24 ribu pelanggan yang tersebar di sejumlah kecamatan.
Shalahuddin meminta masyarakat ikut menghemat penggunaan air selama musim kemarau. Langkah tersebut dinilai penting untuk menjaga pasokan hingga hujan kembali turun.
“Hal tersebut penting dilakukan untuk menjaga ketersediaan pasokan hingga musim hujan kembali tiba,” katanya.
Di sisi lain, Pemerintah Kabupaten Maros juga mulai mengantisipasi meluasnya dampak kekeringan. Bupati Maros Chaidir Syam mengatakan sedikitnya 6.738 kepala keluarga (KK) menjadi sasaran distribusi air bersih karena terdampak kekeringan.
Warga tersebut tersebar di delapan kecamatan yang masuk wilayah rawan krisis air bersih.
Empat kecamatan masuk kategori zona merah, yakni Bontoa, Lau, Marusu, dan Maros Baru. Sementara empat kecamatan lainnya masuk zona kuning, yakni Turikale, Moncongloe, Tanralili, dan Mandai.
Untuk memenuhi kebutuhan warga, Pemkab Maros menyiapkan sedikitnya 16 mobil tangki air bersih setiap hari.
“Armada tersebut akan bergerak secara bergilir ke wilayah terdampak untuk menyalurkan air sesuai kebutuhan masyarakat,” kata Chaidir.
Tak hanya krisis air bersih, Pemkab Maros juga mewaspadai dampak kemarau terhadap sektor pertanian.
Pemkab telah membentuk Satuan Tugas (Satgas) Kekeringan untuk melakukan pendataan terhadap lahan pertanian yang terdampak kekeringan.
“Pemerintah daerah telah membentuk satuan tugas (Satgas) Kekeringan untuk melakukan pendataan terhadap lahan pertanian yang terdampak,” ujarnya.






