Antrean BBM Picu Penyerangan Pegawai SPBU, DPRD Sulsel Desak Pertamina Berbenah

Tangkapan Layar Kericuhan yang Terjadi di SPBU Pertamina Ammessangeng, Sengkang, Kabupaten Wajo, Minggu (23/8/2028) malam. (Foto: Istimewa)

WAJO, Inikata.id – Antrean panjang pengisian bahan bakar minyak (BBM) di sejumlah SPBU kembali memicu persoalan. Kali ini, seorang pegawai SPBU Pertamina Ammessangeng, Sengkang, Kabupaten Wajo, diserang menggunakan senjata tajam jenis badik, Minggu (23/8/2026) malam.

Peristiwa tersebut diduga bermula saat seorang pengendara sepeda motor hendak mengisi BBM. Pengendara itu kemudian diminta mengikuti antrean oleh petugas SPBU.

Diduga tidak terima diminta menunggu, pengendara tersebut emosi dan menyerang pegawai SPBU menggunakan senjata tajam.

Bacaan Lainnya

Kanit Resmob Polres Wajo, Ipda Anwar Ali, membenarkan kejadian tersebut. Ia mengatakan, polisi masih melakukan penyelidikan untuk mengungkap secara jelas kronologi dan pihak yang terlibat.

“Untuk sementara kami masih mencari pelaku. Kami sedang melakukan penyelidikan untuk mengetahui secara jelas pihak-pihak yang terlibat dalam kejadian tersebut,” ujar Anwar kepada wartawan, Minggu (23/8) malam.

Kejadian ini mendapat perhatian Wakil Ketua DPRD Sulawesi Selatan, Sufriadi Arif. Ia meminta Pertamina segera mengevaluasi sistem pelayanan dan distribusi BBM, terutama di SPBU yang berada di jalur utama Wajo menuju Makassar.

Menurutnya, antrean panjang BBM tidak boleh terus dibiarkan karena berpotensi memicu emosi hingga konflik antara masyarakat dan petugas SPBU.

“Saya meminta Pertamina segera berbenah. Jangan sampai persoalan antrean panjang justru memicu konflik antara masyarakat dengan petugas SPBU. Kejadian di Ammessangeng ini harus menjadi peringatan serius,” tegas Sufriadi.

Ia meminta evaluasi dilakukan secara menyeluruh, bukan hanya di satu SPBU, tetapi di sepanjang jalur Wajo–Sidrap–Parepare–Barru hingga Makassar.

Jalur tersebut merupakan salah satu akses utama masyarakat sekaligus jalur distribusi barang. Karena itu, kelancaran pasokan BBM dinilai penting untuk menjaga aktivitas masyarakat dan distribusi logistik.

“Jangan tunggu ada korban atau keributan lebih besar baru dilakukan evaluasi. Pertamina harus memastikan ketersediaan BBM dan memperbaiki sistem pelayanan agar masyarakat tidak terus-menerus dihadapkan pada antrean panjang,” katanya.

Sufriadi juga mengimbau masyarakat tidak menggunakan kekerasan ketika menghadapi persoalan di SPBU. Di sisi lain, petugas dan pengelola SPBU diminta memberikan pelayanan secara tertib serta mampu mengantisipasi potensi konflik saat terjadi antrean.

“Antrean BBM tidak boleh berujung pada kekerasan. Masyarakat harus tertib, tetapi Pertamina juga punya tanggung jawab memastikan pasokan dan pelayanan berjalan dengan baik. Jangan sampai warga yang hanya ingin mendapatkan BBM justru terlibat keributan,” pungkasnya. (**)

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *