MAROS – Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) RI Benjamin Paulus Octavianus menegaskan pemerintah kini memprioritaskan pelacakan kontak erat (tracing) sebagai strategi utama percepatan penanggulangan tuberkulosis (TBC). Langkah itu dinilai lebih efektif untuk memutus rantai penularan dibanding hanya mengobati pasien yang telah terdiagnosis.
Hal itu disampaikan Benjamin saat meninjau pelaksanaan skrining TBC terintegrasi Cek Kesehatan Gratis (CKG) bersama Wakil Menteri Dalam Negeri RI Akhmad Wiyagus di Aula Kantor Camat Mandai, Kabupaten Maros, Jumat (7/8/2026).
Benjamin mengatakan Indonesia diperkirakan memiliki sekitar 1,09 juta kasus TBC. Saat ini sekitar 80 persen kasus telah berhasil ditemukan, meningkat dibanding sebelumnya yang hanya 48 persen.
“Yang kita perjuangkan sekarang adalah menemukan kasus. Jangan cuma mengobati yang sakit, tetapi seluruh anggota keluarga yang kontak erat juga harus diperiksa. Kalau belum sakit diberi terapi pencegahan, kalau positif langsung diobati. Dengan cara ini, kasus TBC bisa turun drastis dalam dua sampai tiga tahun ke depan,” katanya.
Menurutnya, pemeriksaan dilakukan melalui program CKG menggunakan portable X-Ray, sehingga masyarakat, termasuk yang berada di daerah terpencil, tidak perlu datang ke fasilitas kesehatan.
Pemerintah juga memastikan akan mendistribusikan alat portable X-Ray ke puskesmas di seluruh Indonesia untuk mempercepat skrining dan penemuan kasus TBC.
Sementara itu, Wakil Bupati Maros Muetazim Mansyur berharap pemerintah pusat menambah fasilitas penunjang di daerahnya. Saat ini Maros baru memiliki tiga unit mesin Tes Cepat Molekuler (TCM) dan satu portable X-Ray, padahal layanan menjangkau 14 kecamatan.
“Untuk mempercepat penemuan kasus, kami masih membutuhkan tambahan 13 unit mesin TCM dan satu portable X-Ray with AI,” ujarnya.
Muetazim mengatakan Pemkab Maros juga telah membentuk Tim Percepatan Penanggulangan TBC hingga tingkat desa serta mengembangkan inovasi SIPAKATU sebagai strategi mempercepat penemuan kasus di masyarakat.
Hingga semester pertama 2026, Maros telah menemukan 546 kasus TBC atau 32,13 persen dari target tahunan. Sementara pelaksanaan skrining melalui CKG telah berlangsung di 16 dari 86 lokasi yang ditargetkan, dengan sekitar 1.600 warga telah menjalani pemeriksaan.
Kepala Dinas Kesehatan Maros Muhammad Yunus menambahkan capaian Standar Pelayanan Minimal (SPM) penanganan TBC di Maros pada 2026 telah mencapai 67 persen. Adapun tingkat keberhasilan pengobatan pasien TBC sensitif obat mencapai 93 persen.
“Fokus kami saat ini adalah skrining terhadap kontak erat, kontak serumah, dan kelompok berisiko agar kasus bisa ditemukan lebih cepat,” kata Yunus.



