MAKASSAR – Habitat kera Macaca maura di kawasan Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung (TN Babul), Sulawesi Selatan, terancam akibat serbuan tumbuhan asing invasif Spathodea campanulata.
Tanaman tersebut berkembang cepat dan mengganggu vegetasi yang menjadi sumber pakan Macaca maura. Dampaknya, kera endemik Sulawesi itu kerap turun ke jalan untuk mencari makan.
Kepala Balai TN Bantimurung Bulusaraung Abdul Rajab mengatakan, perilaku Macaca maura turun ke jalan tersebut telah terjadi sejak 2012.
“Kerusakan habitat membuat ketersediaan pakan satwa tersebut ikut terganggu,” kata Rajab dalam kegiatan Project Landscape Inception Workshop-Proyek Strengthening Capacity for Management of Invasive Alien Species in Indonesia (SMIAS) di Hotel Mercure Makassar, Jumat (4/9/2026).
Menurut Rajab, salah satu penyebab perubahan habitat Macaca maura adalah berkurangnya tanaman yang menjadi sumber pakan. Kondisi tersebut diperparah perubahan struktur jalan yang membuat tajuk antarpohon tidak lagi tersambung.
Akibatnya, habitat alami kera semakin terganggu dan sumber pakan di dalam kawasan hutan ikut berkurang.
Spathodea campanulata menjadi salah satu tanaman yang mendapat perhatian serius karena proses invasinya berlangsung cepat. Tanaman tersebut bahkan telah ditemukan hampir di seluruh kawasan TN Babul.
Hasil identifikasi yang dilakukan sejak 2016 menunjukkan sedikitnya 438 hektare kawasan TN Babul telah terinvasi Spathodea. Luasan tersebut berasal dari total kawasan TN Babul yang mencapai 43.750 hektare.
Namun, hingga kini belum dilakukan identifikasi terbaru untuk memastikan perkembangan luasan kawasan yang telah terinvasi.
Tak hanya mengambil ruang tumbuh vegetasi lain, Spathodea juga dapat menghambat pertumbuhan tanaman di sekitarnya melalui cairan alelopati yang dikeluarkan dari bunganya.
Kondisi itu terlihat di salah satu lokasi di kawasan Karaenta. Vegetasi lantai hutan di bawah tegakan Spathodea bahkan sulit tumbuh.
Bagi Macaca maura, kondisi tersebut menjadi persoalan karena pemulihan habitat dan sumber pakan sangat bergantung pada kemampuan kawasan hutan mempertahankan vegetasi alaminya.
“Kalau tanaman pakan ini sudah bisa kita pulihkan kembali, tentunya kita harus mulai dari pengendalian tanaman invasifnya dulu,” ujar Rajab.
TN Babul telah mulai melakukan pengendalian Spathodea menggunakan metode suntikan sejak 2025.
Hasilnya mulai terlihat setelah enam bulan. Sejumlah tanaman mengalami peranggasan mulai dari batang hingga cabang. Beberapa di antaranya bahkan telah tumbang dan tidak lagi memunculkan cabang baru.
Upaya tersebut akan diperluas melalui proyek SMIAS yang digagas Kementerian Kehutanan.
Direktur Konservasi Spesies dan Genetik (KSG) Kementerian Kehutanan, Ahmad Munawir mengatakan, proyek tersebut akan mendukung penanganan jenis asing invasif melalui riset, penguatan regulasi, pelibatan masyarakat, hingga penanganan langsung di lapangan.
“Target kita adalah untuk Bantimurung melakukan mitigasi dan penanganan terhadap adanya jenis invasif alien species,” kata Ahmad.
Dia mengatakan, penanganan akan dilakukan melalui tiga langkah secara paralel, yakni penguatan regulasi, penanggulangan di lapangan, serta peningkatan kapasitas sumber daya manusia.
Di kawasan TN Babul terdapat sekitar 44 jenis invasif, baik jenis lokal maupun alien species. Spathodea campanulata menjadi salah satu jenis yang dinilai paling cepat proses invasinya.
Untuk tahap awal proyek SMIAS tahun ini, empat lokasi di TN Babul menjadi fokus penanganan, khususnya di Kabupaten Maros.
Selain mengendalikan Spathodea, proyek tersebut juga diharapkan membuka peluang penelitian mengenai potensi pemanfaatan tanaman tersebut dari sisi bioekonomi maupun bioprospeksi.
Rajab berharap proyek SMIAS dapat memfasilitasi penelitian lebih mendalam, termasuk oleh perguruan tinggi, sehingga upaya pengendalian Spathodea dapat berjalan beriringan dengan kajian mengenai potensi tanaman tersebut.
“Perlu kajian yang lebih mendalam dan kami berharap dari proyek SMIAS itu bisa difasilitasi, khususnya untuk perguruan-perguruan tinggi yang ingin melakukan kegiatan penelitian terkait ini,” pungkasnya.






