MAROS – Perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-62 Desa Tenrigangkae, Kabupaten Maros, berlangsung meriah. Ratusan warga hingga pejabat hadir mengenakan pakaian adat dalam seremoni yang digelar selama tiga hari.
Puncak perayaan berlangsung di lapangan Perumahan Permata Lion Residence, Minggu (23/8/2026). Puluhan tenda UMKM turut berjejer di lokasi, menyajikan beragam produk dan makanan olahan warga.
Rangkaian HUT Desa Tenrigangkae telah berlangsung sejak Jumat (21/8) dan menjadi ruang bagi masyarakat untuk merayakan hari jadi sekaligus memperkenalkan potensi desa.
Namun, kemeriahan acara bukan satu-satunya hal yang menjadi perhatian. Pada puncak perayaan, sejarah Desa Tenrigangkae kembali diangkat melalui pembacaan kilas balik yang disampaikan Ketua Gapoktan Tenrigangkae, Muh Sabir.
Dalam kisah tersebut, asal-usul nama Tenrigangkae turut diungkap. Nama Tenrigangkae berasal dari bahasa Bugis, yakni “Tenri” yang berarti tidak ada dan “Gangka” yang berarti batas.
Jika digabungkan, Tenrigangkae memiliki makna “tidak ada batas” atau “tidak terbatas”.
Sejarah desa ini juga berkaitan erat dengan wilayah Kerajaan Tanralili. Pada awal terbentuknya, wilayah Tenrigangkae mencakup sejumlah perkampungan yang merupakan bagian dari bekas wilayah kerajaan tersebut.
Di antaranya Barambang, Leko, Pattontongan, Makkaraeng, Sambotara, Tokka, Tamaramppu, Salu, Mangento, Batangase, Baddo-Baddo dan Pao-Pao.
Seiring perkembangan pemerintahan dan pemekaran wilayah, sejumlah kawasan tersebut kemudian berkembang menjadi desa maupun kelurahan tersendiri.
Saat ini, Desa Tenrigangkae terdiri atas lima dusun, yakni Dusun Bombongi, Bugis, Padaelo, Tinggito dan Makkaraeng.
Kepala Desa Tenrigangkae Wahyu Febry mengatakan, peringatan hari jadi desa tidak boleh berhenti sebagai kegiatan seremonial.
Menurutnya, momentum HUT menjadi kesempatan untuk kembali mengenalkan sejarah desa kepada generasi muda sekaligus menumbuhkan rasa memiliki terhadap daerah tempat mereka tinggal.
“Ini bukan hanya perayaan ulang tahun desa, tetapi bagaimana kita kembali mengingat sejarah Desa Tenrigangkae. Supaya generasi kita tahu dari mana kita berasal dan bagaimana perjalanan desa ini sampai sekarang,” kata Wahyu.
Ia mengatakan Tenrigangkae memiliki sejarah panjang sekaligus berbagai potensi yang dapat dikembangkan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Karena itu, pemerintah desa terus mendorong pengembangan ekonomi masyarakat, termasuk melalui UMKM dan pengelolaan usaha milik desa.
“Kami ingin apa yang menjadi potensi desa ini bisa dikenal lebih luas. Bukan hanya di Tenrigangkae, tetapi kalau bisa keluar Maros, bahkan sampai ke luar Sulawesi Selatan,” ujarnya.
Pelibatan pelaku UMKM menjadi salah satu bagian penting dalam perayaan HUT tahun ini.
Puluhan pelaku usaha membuka lapak di sekitar lokasi kegiatan. Selain memeriahkan acara, kehadiran UMKM tersebut menjadi ruang promosi sekaligus mendorong perputaran ekonomi masyarakat.
Wahyu berharap keterlibatan warga dalam seluruh rangkaian kegiatan semakin memperkuat persatuan dan rasa memiliki terhadap desa.
“Harapan kami masyarakat semakin kompak, semakin bersatu. Karena pembangunan desa tidak bisa dilakukan pemerintah desa saja. Kami membutuhkan dukungan seluruh masyarakat,” katanya.
Bupati Maros Hadir Lewat Zoom
Sementara itu, Bupati Maros Chaidir Syam tidak dapat menghadiri langsung puncak HUT Desa Tenrigangkae karena sedang berada di Tarakan, Kalimantan.
Chaidir kemudian menyampaikan sambutan melalui sambungan Zoom.
Ia terlebih dahulu meminta maaf kepada masyarakat Tenrigangkae karena tidak bisa hadir secara langsung.
“Pertama-tama saya dengan nama pribadi memohon maaf karena tidak dapat hadir langsung di Desa Tenrigangkae. Saya sekarang berada di Tarakan, di Kalimantan,” kata Chaidir.
Meski tidak hadir secara langsung, Chaidir tetap memberikan apresiasi kepada pemerintah desa dan masyarakat Tenrigangkae yang dinilai terus menjaga kebersamaan sekaligus mendorong pembangunan desa.
Ia berharap Tenrigangkae dapat berkembang menjadi desa yang semakin mandiri dan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
“Insyaallah Desa Tenrigangkae menjadi desa yang mandiri, kemudian desa yang membawa kesejahteraan buat masyarakatnya dengan berbagai prestasi yang telah disampaikan,” ujarnya.
Chaidir juga mengapresiasi kepemimpinan Kepala Desa H Wahyu Febry yang dinilai telah membawa sejumlah capaian bagi Tenrigangkae.
Menurutnya, pembangunan desa tidak bisa dilepaskan dari kekompakan pemerintah desa, tokoh masyarakat dan warga.
“Yang paling utama adalah mari kita terus menjaga kekompakan antara seluruh masyarakat, seluruh tokoh masyarakat. Mari kita terus menjalin kekompakan untuk membangun Desa Tenrigangkae yang kita sangat sayangi,” katanya.
Chaidir pun mengajak seluruh masyarakat terus bersatu dan memberikan kontribusi terbaik untuk kemajuan desa.
“Mari kita terus bersatu untuk membangun desa yang kita cintai, Desa Tenrigangkae, menjadi desa yang mandiri dan sejahtera buat masyarakatnya,” sambungnya.
Perayaan HUT ke-62 Desa Tenrigangkae pun tidak hanya menjadi ajang perayaan hari jadi. Momentum tersebut sekaligus menjadi ruang untuk menengok kembali perjalanan panjang desa, memperkenalkan potensi lokal, serta memperkuat tekad membangun ekonomi masyarakat.
Dengan semangat gotong royong dan kebersamaan, pemerintah desa berharap Tenrigangkae dapat terus berkembang menjadi desa yang mandiri, produktif dan semakin sejahtera.






